LOAMAJUARA – Dalam upaya menekan penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) di wilayahnya, Kader TBC Desa Loa terus bergerak aktif melakukan berbagai kegiatan sosialisasi, pendampingan, dan pemantauan kesehatan masyarakat. Berdasarkan data terbaru, saat ini tercatat sekitar 17 warga Desa Loa sedang menjalani pengobatan TBC di bawah pengawasan kader dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Paseh.
Kegiatan kader TBC ini merupakan bagian dari program kesehatan masyarakat yang didukung oleh Pemerintah Desa Loa dan Puskesmas Paseh untuk mencapai target nasional “Indonesia Bebas TBC Tahun 2030”. Melalui kegiatan rutin seperti kunjungan rumah, penyuluhan kesehatan, dan pemantauan minum obat (PMO), para kader berupaya memastikan seluruh pasien mendapatkan perawatan yang tepat dan tidak terputus.
Kepala Desa Loa menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini dan mengapresiasi semangat para kader yang bekerja dengan penuh dedikasi di lapangan.
“Saat ini kasus TBC di Desa Loa masih ada sekitar 17 orang. Kami terus berupaya bersama kader kesehatan dan Puskesmas untuk menekan angka tersebut. Kader TBC telah menjadi ujung tombak dalam pencegahan dan penanganan penyakit ini,” ungkapnya.
Kepala Desa juga menambahkan bahwa pemerintah desa secara aktif mendukung kegiatan kesehatan melalui sosialisasi rutin dan penyediaan sarana pendukung untuk kegiatan kader. Menurutnya, pencegahan TBC memerlukan kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat itu sendiri.
Sementara itu, "Euis Sumarni" kader TBC Desa Loa menjelaskan bahwa setiap minggu mereka melakukan pemantauan langsung kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan, sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga agar tidak terjadi penularan di lingkungan rumah.
“Kami memastikan pasien tidak berhenti minum obat, karena pengobatan TBC harus tuntas. Selain itu, kami juga mengingatkan warga agar menjaga kebersihan rumah dan tidak malu untuk memeriksakan diri jika ada gejala batuk lama,” ujarnya.
Pihak Puskesmas Paseh melalui petugas program TBC juga rutin memberikan bimbingan teknis dan pemantauan kepada para kader di lapangan. Upaya tersebut mencakup pemeriksaan dahak, pelaporan kasus baru, hingga pendataan kontak erat pasien untuk dilakukan pemeriksaan dini.
Dengan langkah kolaboratif antara kader, pemerintah desa, dan tenaga medis, angka penularan TBC di Desa Loa diharapkan dapat terus menurun. Kesadaran masyarakat yang semakin meningkat menjadi kunci penting dalam memutus rantai penularan penyakit menular ini.
Kegiatan kader TBC Desa Loa membuktikan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga kesehatan masyarakat. Pemerintah Desa Loa pun berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program kesehatan, terutama dalam upaya mewujudkan Desa Loa Sehat dan Bebas TBC.