You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Desa Loa

Kec. Paseh, Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat
Info
PEMERINTAH DESA LOA KECAMATAN PASEH KABUPATEN BANDUNG

Gempa Maluku : 2.675 Rumah Rusak, Banyak Hoaks


Gempa Maluku : 2.675 Rumah Rusak, Banyak Hoaks

[KBR|Warita Desa] Gempa 6,5 SR yang melanda Maluku pada Kamis (26/9/2019) mengakibatkan ribuan rumah rusak.

Menurut laporan BPBD Provinsi Maluku, sampai Minggu malam (29/9/2019) total rumah rusak mencapai 2.675 unit, dan 852 di antaranya mengalami rusak berat.

"Kerusakan rumah tertinggi berada di Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Barat, dan Kota Ambon. Sedangkan kerusakan di sektor lain, fasilitas umum dan sosial sebanyak 87 unit," kata Humas BNPB Agus Wibowo dalam rilisnya, Senin (30/9/2019).

Di samping merusak bangunan, gempa ini menimbulkan korban luka-luka sebanyak 179 orang, dan korban meninggal 31 orang.

Sampai saat ini Maluku Tengah, Seram Barat dan Ambon masih menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi, yang akan berakhir pada 9 Oktober 2019.

Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BNPB dan berbagai pihak masih terus melakukan upaya penanganan darurat.

Menurut Agus, kebutuhan pengungsi yang mendesak saat ini adalah tenda, makanan, obat-obatan, sekaligus edukasi gempa untuk menghalau hoaks tentang gempa susulan.


Banyak yang Mengungsi karena Hoaks

Sampai Senin malam (30/9/2019) sekitar 136 ribu warga terdampak gempa masih mengungsi. Menurut Agus, banyak warga enggan kembali ke rumahnya karena terpengaruh hoaks tentang gempa susulan.

"Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adanya banyak isu atau berita palsu terkait akan datang gempa besar dalam waktu dekat. Warga masih percaya hoaks tersebut sehingga mereka mengungsi ke bukit secara tersebar dan sulit dijangkau petugas," kata Agus.

Untuk mengatasi masalah ini, BNPB akan mendatangkan dua ahli gempa dari BNPB dan BMKG untuk mengedukasi warga pengungsi tentang gempa.

"BMKG telah menyatakan bahwa isu akan terjadi gempa besar dan tsunami di Ambon, Teluk Piru, dan Saparua adalah tidak benar atau berita bohong," kata Agus.

"Karena hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat dan akurat, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya," lanjut dia.

Oleh : Adhi Ahdiat, Zae Baneza
Editor: Sindu Dharmawan

Bagikan artikel ini:
Komentar