LOAMAJUARA- Desa Loa menjadi panggung hijau bagi gerakan ramah lingkungan yang diinisiasi Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) Kecamatan Paseh dengan tema Remaja Peduli Lingkungan (MALING), para remaja melaksanakan penanaman 1.000 pohon kopi sebagai upaya menumbuhkan kembali ruang hijau sekaligus memperkuat edukasi ekologis bagi generasi muda.
Kegiatan berlangsung pada pagi yang bening, ketika kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Windu. Barisan remaja dari berbagai desa se-Kecamatan Paseh tampak hadir membawa bibit kopi, menapaki jalur tanam yang telah disiapkan sebelumnya. Setiap pohon ditanam dengan tekad sederhana namun kuat: meninggalkan warisan hijau yang dapat dinikmati masyarakat Desa Loa dan wilayah sekitar di masa mendatang.
Kegiatan ini turut dihadiri dan didukung oleh berbagai unsur pemerintah dan masyarakat, di antaranya Kepala Desa Loa, Camat Paseh, perwakilan Dinas Pengendalian Penduduk Kabupaten Bandung, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten, Karang Taruna desa se-Kecamatan Paseh, komunitas Pecinta Alam Edelweis Desa Loa, serta para tokoh masyarakat lainnya yang ikut memberikan dukungan moral maupun tenaga.
Dalam sambutannya, Camat Paseh mengapresiasi langkah PIKR dalam kegiatan MALING yang dinilai menjadi contoh konkrit bahwa kepedulian lingkungan tidak menunggu usia dewasa untuk dimulai. Ia menegaskan bahwa penanaman kopi bukan sekadar memperluas tutupan hijau, tetapi juga membuka potensi ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di masa depan.
Kepala Desa Loa menambahkan bahwa Gunung Windu adalah salah satu kawasan penting bagi keseimbangan ekologis desa. Gerakan penghijauan ini, menurutnya, adalah langkah awal yang harus diikuti dengan pemeliharaan bersama agar 1.000 bibit kopi dapat tumbuh menjadi deretan pohon yang kokoh.
Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup turut mengingatkan pentingnya pemantauan rutin dan pengelolaan kawasan tanam, sementara Dinas Pemuda dan Olahraga menekankan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bentuk nyata pembangunan karakter remaja—membiasakan tanggung jawab, kepedulian, dan kerja kolektif.
Aksi penanaman ini ditutup dengan doa bersama, lalu para remaja menyebar kembali ke jalur-jalur tanam untuk memastikan setiap bibit tertanam rapi. Gunung Windu kini menyimpan 1.000 janji kecil yang suatu hari akan tumbuh menjadi naungan, aroma kopi, dan harapan baru.
Dengan kegiatan ini, PIKR Kecamatan Paseh dan komunitas MALING kembali menunjukkan bahwa suara remaja dapat menjadi angin yang memperbarui lanskap desa—tenang, tapi membawa perubahan.